Print

Banting Setir?

Written by Chomz on . Posted in Scratchpad

 

Mengapa orang menjadi homo (gay dan lesbian)?

Sampai sekarang sih, riset masih dilakukan untuk lebih memastikan alasan seseorang menjadi gay/lesbian.

Para dokter, ilmuwan dan psikolog mengatakan gay/lesbian itu disebabkan oleh factor kelebihan kromosom, tidak seimbangnya hormon, genetik / keturunan.

Kalau orang awam menganggapnya penyakit menular. Artinya jika lingkungannya gay/lesbian, maka seseorang dapat terjangkit penyakit gay/lesbian pula.

Menurut pandangan saya, penyebab gay/lesbian memang dapat dibagi menjadi dua. Penyebab dari dalam dan dari luar.

Penyebab dari dalam yaitu genetik. Saya percaya, memang ada anak yang dilahirkan memiliki hormon tidak seimbang misalnya seorang perempuan memiliki kelebihan horman laki-laki dan laki-laki kelebihan hormon wanita. Jadi, bukan salah mereka jika mereka memiliki orientasi seks yang agak berbeda dengan orang kebanyakan.

Penyebab dari luar misalnya luka batin dan pergaulan. Yang paling berat adalah bila sesorang menjadi gay/lesbi karena luka batin. Percaya atau tidak, sejak kita didalam kandung, kita sudah dapat mengalami luka batin. Misalnya sewaktu hamil, sang ibu sangat mendambakan seorang anak laki-laki, sehingga ia telah mempersiapkan semuanya yang berbau laki-laki, namun ternyata yang lahir adalah seorang bayi perempuan. Nah…ini juga dapat menyebabkan si anak perempuan tersebut menjadi seorang lesbian.

Luka batin yang kedua dapat disebabkan oleh gagalnya hubungan antara lawan jenis. Seorang cewek yang disakiti oleh cowoknya, lalu menjadi trauma akan laki-laki. Atau dapat juga misalnya si cewek sering melihat mamanya dipukul oleh papanya. Sehingga ia trauma kepada lelaki dan merasa lebih nyaman dengan perempuan. Atau ignorance / ketidak pedulian pasangan lawan jenis akan kondisi dan 

kebutuhan sex-life nya, ketidak pede-an mengahadapi pasangan lawan jenis hingga akhirnya mencari yang sejenis karena merasa lebih "dianggap" dan dihargai. Adalah suatu penghinaan terbesar bagi seorang pasangan yang ditepis "ajakannya" apalagi hingga berulang ulang. Saat kehilangan pede itulah yang dapat menimbulkan pikiran2 untuk banting setir mencari kenyamanan dengan pihak yang lebih bisa memberikan kepercayaan diri dan biasanya yang paling mengerti seseorang adalah rekan sesama jenisnya.

Tapi perlu dicatat bahwa saya tidak percaya adanya sex abuse dimasa kecil oleh sesama jenis dapat menyebabkan si anak tumbuh menjadi seorang gay/lesbian. Dalam beberapa website yang saya baca, ada yang menyebutkan bahwa seseorang menjadi gay/lesbian karena pernah disetubuhi / diperkosa (sex abuse) oleh sesama jenisnya dan merasa nikmat dan akhirnya menjadi gay/lesbian. Coba kalian pikir, mana ada yang namanya permerkosaan nikmat? Yang ada hanyalah trauma yang mengakibatkan cewek maupun cowok enggan berhubungan seks dengan siapapun. Itu baru benar.

Penyebab yang berikutnya (saya tidak mau bilang “yang terakhir” karena sampai hari ini pun orang-orang pintar belum dapat menyimpulkan apa sebenarnya penyebab gay/lesbian) adalah pergaulan. Sebetulnya saya agak meragukan faktor ini. Tapi saat ini saya masih akan 50-50 saja. Kenapa? Karena sebetulnya (dan menurut pendapat orang lain juga), semua orang di dunia ini lahir dengan dua seks orientasi (bi-sexual) sampai ia mengalami pubertas. Lalu setelah itu, orang akan memilih seksual orientasinya sesuai dengan keinginan dia.

Memang banyak perempuan atau pun laki-laki yang tadinya berpacaran dengan lawan jenis lalu tiba-tiba berubah haluan. Menurut saya, mereka bukan berubah haluan tapi akhirnya sadar bahwa mereka lebih tertarik terhadap sesama jenisnya dan mulai mencari kebenaran. Dulu waktu ia kecil, mungkin lingkungannya adalah orang-orang yang straight, sehingga ia merasa terpaksa untuk mengikuti lingkungannya. Namun, semakin ia bertumbuh, keinginan dalam dirinya semakin memberontak. Ia mulai mencari tahu apakah ada teman-teman lain yang juga tertarik dengan sesama jenis. Lalu ia bergabung dan akhirnya menemukan jati dirinya di sana.

Saya juga percaya bahwa setiap orang diberi akal budi oleh Yang di Atas untuk memilah-milah mana yang baik dan benar, bukan hanya ikut-ikutan belaka. Oleh karena itu, faktor pergaulan menurut saya memegang peranan yang kecil sekali dalam hal pembentukan seseorang menjadi gay/lesbian kalau bukan mereka sendirilah yang mencari dan memutuskan untuk menjadi seorang gay/lesbian.

Bagaimana dengan bi-sexual?

Nah…ini yang saya kurang mengerti. Yang saya tahu, memang ada gay yang berpacaran dengan wanita dan pria. Begitu juga dengan lesbian, mereka memiliki pacar laki-laki dan wanita. Namun ini lebih disebabkan oleh kelompok homophobic tadi yang tidak dapat menerima mereka sebagai gay dan lesbian. Sehingga, mau tidak mau, mereka menutupi kenyataan tersebut dengan berpacaran dengan lawan jenis.

Homosexsuality vs. Religion

Well, saya sih bukan orang yang religius. Tapi memang saya pernah beberapa kali berbincang dengan beberapa orang yang religius dan mereka semua confirmed that homoseksual bukanlah sebuah dosa. Apakah itu dosa jika kita kelebihan hormon wanita? Apakah itu dosa jika kelebihan hormon pria? Apakah dosa bila mereka merasa lebih nyaman dengan sesama jenis?

Sekarang pertanyaannya, mana yang lebih berdosa? Orang yang mengumpat, mencemooh, mengucilkan dan bahkan membunuh (terjadi di Amerika) kelompok homoseksual atau orang yang memilih jalan hidupnya untuk setia dan mencintai pasangan sesama jenisnya? :axehead:

so, guys n gals, beberapa mungkin berpendapat, sex-life itu ga penting. yang penting adalah kerja, kerja, kerja. yang penting adalah gua mau ya gua sentuh. 

nope, salah besar.

pernah ga siy kepikiran, kondisi pasangan yang misalnya sedang kurang fit, tapi mereka rela melayani dan tidak menepis keinginan kita? kenapa kita tidak berusaha melakukan hal yang sama demi pasangan?

kecuali, kalau memang sudah tidak "menarik" lagi untuk disentuh, kenapa harus dipertahankan? kasian dunk cuma jadi pajangan ajah.. gimana kalo beneran banting setir nantinya? secara, faktor2 pendukung udah terlihat jelas.

:axehead:

 

blog comments powered by Disqus